Tampilkan postingan dengan label KKA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KKA. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Desember 2025

Lulus Pelatihan Koding dan Kecerdasan Artifisial

🚀 Kabar Gembira! Sertifikat Pelatihan Koding dan Kecerdasan Artifisial Sudah Dapat Diunduh!

Kabar baik datang bagi seluruh peserta yang telah menyelesaikan program Pelatihan Koding dan Kecerdasan Artifisial (Fase D) yang diselenggarakan oleh Aswaja Nusantara Career Development Center.

Berdasarkan informasi yang beredar melalui grup komunikasi resmi peserta (Grup WhatsApp), tim penyelenggara dari Aswaja Nusantara mengumumkan bahwa sertifikat kelulusan kini telah siap dan dapat diunduh (di-download) oleh para peserta.

Pelatihan yang berlangsung sejak 10 Juli hingga 1 Oktober 2025 ini merupakan pelatihan dengan moda bauran (In-Service Training 1 - On the Job Training - In-Service Training 2) dengan total 180 Jam Pelajaran 6 (JP). Alhamdulillah salah satu peserta yang dinyatakan lulus adalah kami, Abdul Haris Hairu dari SMP Negeri 3 Songgon Satu Atap, yang menyelesaikan pelatihan dengan hasil evaluasi Baik.

📜 Detail Sertifikat dan Validasi

Sertifikat yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah ini memiliki Nomor 0747/B/GT.02.00/2025 dan ditandatangani oleh Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. selaku Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru.

Peserta dihimbau untuk segera mengakses platform resmi yang telah ditentukan untuk mengunduh dokumen penting ini. Sertifikat ini menjadi bukti kompetensi dalam penguasaan materi seperti Berpikir Komputasional dan Literasi Digital, serta Pedagogik Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA).

Pastikan Anda telah melakukan validasi sertifikat sesuai petunjuk yang diberikan di LMS masing-masing untuk menjamin keabsahannya!

Sesuai permintaan Tim Aswaja Nusantara CDC setelah menerima sertifikat untuk segera melakukan konfirmasi melalui tautan yang telah disediakan.

***

Senin, 17 November 2025

Membuat Poster Bertema Perilaku Ramah Lingkungan Hidup dengan Kecerdasan Artifisial

Kegiatan pembelajaran mendalam mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) untuk kelas VII B dilaksanakan di Laboratorium Komputer dengan memanfaatkan perangkat Chromebook melalui akses akun belajar.id. Materi berfokus pada penerapan prompt yang tepat untuk berinteraksi dengan sistem kecerdasan artifisial melalui aplikasi ChatGPT dan Gemini sebagai sarana eksplorasi pembelajaran.

Sebelum praktik dimulai, Guru memberikan bimbingan mengenai pengertian prompt, cara menyusun kalimat instruksi yang baik, relevan, dan terukur, serta contoh perintah yang efektif agar aplikasi kecerdasan artifisial mampu memberikan respons sesuai kebutuhan. Siswa juga mendapatkan penjelasan mengenai etika penggunaan teknologi kecerdasan artifisial, seperti menghindari konten negatif, plagiarisme, serta memastikan hasil akhir tetap memiliki kreativitas pribadi.

Selanjutnya, siswa melakukan praktik secara individu dengan menyusun prompt yang tepat untuk menghasilkan teks dan ide desain poster bertema Perilaku Ramah Lingkungan Hidup. Siswa memanfaatkan respon kecerdasan artifisial sebagai referensi, kemudian mengolah dan mengadaptasikannya ke dalam desain poster digital yang dibuat melalui berbagai alat aplikasi yang tersedia di Chromebook.

Kegiatan ini bertujuan mengembangkan kreativitas, literasi digital, kemampuan komunikasi berbasis kecerdasan artifisial, pemecahan masalah, serta kesadaran lingkungan. Siswa terlihat antusias dalam mengeksplorasi berbagai ide dan desain. Beberapa hasil poster menampilkan pesan hemat energi, pengurangan sampah plastik, gerakan menanam pohon, pemilahan sampah, hingga kampanye kebersihan sekolah.

Pada akhir kegiatan, siswa melakukan sesi presentasi singkat guna menjelaskan makna poster, pemilihan elemen visual, serta proses prompting yang dilakukan pada aplikasi kecerdasan artifisial. Hasil karya dipajang sebagai portofolio digital kelas VII B.

Melalui kegiatan ini, peserta didik mampu mengembangkan pemahaman mengenai penggunaan teknologi kecerdasan artifisial secara bijak dan produktif. Kegiatan juga memberikan pengalaman langsung dalam memanfaatkan kecerdasan artifisial sebagai alat kreatif dan solusi pembelajaran berbasis teknologi abad ke-21, khususnya dalam bidang literasi digital dan kesadaran lingkungan.

Mata Pelajaran: Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA)
Kelas: VII B
Tempat: Laboratorium Komputer
Media Pembelajaran: Chromebook & Akun belajar.id
Materi: Penerapan Prompt yang Tepat pada Kecerdasan Artifisial
Aplikasi yang Digunakan: ChatGPT dan Gemini
Kegiatan: Praktik Individu Membuat Poster Bertema Perilaku Ramah Lingkungan Hidup

Rabu, 12 November 2025

Pengisian Survei Implementasi Awal Pembelajaran KKA

Kepala SMP Negeri 3 Songgon telah menyelesaikan pengisian Survei Implementasi Awal Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) pada 12 November 2025, sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan (PSKP), Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Survei ini merupakan agenda nasional yang dilaksanakan pada 5–15 November 2025 melalui tautan resmi yang diberikan untuk kepala sekolah dan guru KKA. Survei bertujuan untuk memperoleh gambaran awal mengenai implementasi mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial sebagai mata pelajaran pilihan pada tahun ajaran 2025/2026.

Sebagai bagian dari satuan pendidikan yang telah menjalankan pembelajaran KKA, SMP Negeri 3 Songgon mengikuti instruksi dengan menugaskan dua responden sesuai ketentuan, yaitu:

  • Kepala Sekolah yang wajib mengisi survei kebijakan dan pelaksanaan program KKA.
  • Guru pengampu KKA sebagai responden kedua yang diminta memberikan data teknis terkait proses pembelajaran.

Pengisian yang dilakukan pada 12 November 2025 merupakan bentuk kepatuhan sekolah terhadap jadwal yang telah ditetapkan serta kontribusi terhadap pemetaan nasional implementasi pembelajaran digital dan kecerdasan artifisial.

PSKP BSKAP Kemendikdasmen menyampaikan bahwa hasil survei ini akan digunakan sebagai dasar penyusunan rekomendasi kebijakan, penguatan kurikulum, serta dukungan fasilitasi pelaksanaan mata pelajaran KKA di tahun-tahun mendatang.

Dengan selesainya pengisian survei oleh kepala sekolah, SMP Negeri 3 Songgon menunjukkan komitmen untuk terus mendukung pengembangan inovasi pembelajaran, khususnya pada bidang teknologi dan kecerdasan artifisial yang menjadi kompetensi masa depan.

***

Rabu, 29 Oktober 2025

Belajar Koding Melalui Aplikasi Scratch


Kegiatan pembelajaran mendalam mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) untuk kelas VIII A dilaksanakan di Laboratorium Komputer dengan menerapkan metode pembelajaran berbasis praktik langsung (learning by doing) menggunakan platform Scratch. Siswa memanfaatkan perangkat Chromebook melalui akun resmi belajar.id sebagai sarana eksplorasi dan pembuatan proyek animasi digital.

Sebelum praktik dimulai, pengajar Abdul Haris Hairu, S.Kom memberikan pengantar mengenai konsep dasar koding blok, logika pemrograman visual, pengenalan fitur Scratch, serta langkah-langkah menyusun algoritma menggunakan blok perintah. Selanjutnya siswa membuat animasi bergerak secara individu dengan menentukan karakter (sprite), latar belakang, jalur gerak, efek suara, dan perintah kontrol.

Untuk memperkuat pemahaman dan mendorong kolaborasi, diterapkan strategi tutor sebaya, di mana siswa yang lebih cepat memahami materi membantu teman lainnya dalam menyusun alur koding dan memecahkan kendala teknis. Model ini terbukti efektif karena komunikasi antar siswa menjadi lebih aktif, terbuka, dan mudah dipahami sesuai gaya belajar masing-masing.

Dalam praktik tersebut, siswa memanfaatkan berbagai kategori blok seperti motion, looks, sound, events, control, sensing, hingga operators. Selain mampu menciptakan animasi dasar, beberapa siswa mulai melakukan eksperimen lanjutan seperti menambahkan percabangan, pengulangan (loop), perubahan kecepatan gerak, dan efek suara interaktif.

Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan pemahaman konsep koding visual, tetapi juga membentuk keterampilan penting seperti kerja sama, komunikasi, kreativitas, literasi digital, serta kemampuan pemecahan masalah. Pada akhir sesi, seluruh siswa mampu mempresentasikan hasil karya animasinya dan memberikan umpan balik satu sama lain.

Melalui pembelajaran berbasis praktik dan tutor sebaya ini, kegiatan KKA menjadi lebih interaktif, aplikatif, serta menyenangkan. Diharapkan kemampuan dasar koding dapat berkembang menjadi kompetensi digital yang relevan dengan kebutuhan era teknologi dan kecerdasan buatan.

Mata Pelajaran: Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA)
Kelas: VIII A
Tempat: Laboratorium Komputer
Media Pembelajaran: Chromebook & Akun belajar.id
Materi: Penerapan Koding Blok pada Aplikasi Scratch
Kegiatan: Praktik Individu Membuat Animasi Bergerak dengan Metode Tutor Sebaya
Pengajar/Fasilitator: Abdul Haris Hairu, S.Kom

Kamis, 23 Oktober 2025

Supervisi Akademik Pada Pembelajaran Informatika Kelas 9

Sebagai upaya peningkatan mutu pembelajaran berbasis teknologi dan literasi digital, SMP Negeri 3 Songgon kembali menunjukkan komitmennya melalui kegiatan supervisi pembelajaran Informatika. Pada hari ini, Ibu Dra. Endah Retnowati, yang mendapat mandat langsung dari Kepala Sekolah, melakukan supervisi kepada Bapak Abdul Haris Hairu, S.Kom. selaku guru Informatika. Supervisi berlangsung di Laboratorium Komputer.

Kegiatan ini bertujuan untuk memantau secara langsung pelaksanaan pembelajaran Informatika, mulai dari penerapan model pembelajaran digital, pemanfaatan perangkat komputer, penggunaan software edukatif, hingga keterlibatan aktif peserta didik selama praktik.

Pada supervisi hari ini, pembelajaran berlangsung dengan materi Koding, khususnya sub materi membuat animasi sederhana menggunakan aplikasi Scratch. Siswa terlihat aktif dan fokus bekerja pada masing-masing perangkat Chromebook. Mereka mempraktikkan langkah-langkah dasar pemrograman visual untuk menghasilkan gerakan animasi sederhana. Proses pembelajaran berlangsung mandiri namun tetap terarah berkat bimbingan langsung dari guru.

Ibu Dra. Endah Retnowati memberikan apresiasi terhadap pengelolaan laboratorium, ketersediaan sarana, serta pendekatan pembelajaran yang mendorong kreativitas dan kemampuan pemecahan masalah peserta didik.

Pembelajaran Informatika harus menjadi ruang kreativitas dan inovasi bagi siswa, sehingga mereka siap menghadapi tantangan teknologi masa depan,” ujarnya.

Dengan terlaksananya supervisi ini, SMP Negeri 3 Songgon semakin meneguhkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan, terutama pada penguatan pembelajaran digital, pengembangan kompetensi KKA (Kecerdasan Komputasional dan Artifisial), serta kesiapan sekolah menghadapi ANBK pada periode mendatang.

Kegiatan hari ini menjadi bukti bahwa pembelajaran Informatika bukan hanya tentang memahami teknologi, tetapi juga membangun generasi kreatif, adaptif, dan siap bersaing di era digital.

Selasa, 30 September 2025

Laporan Berbagi Praktik Baik KKA

LAPORAN BERBAGI PRAKTIK BAIK KKA


Judul Praktik Baik
"Kampanye Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (GPBLHS) dengan Menerapkan Teknologi Kecerdasan Artifisial (AI)"

1. Latar Belakang Masalah
Kesadaran siswa dalam menjaga lingkungan sekolah masih tergolong rendah. Hal ini terlihat dari kebiasaan sebagian siswa yang masih membuang sampah sembarangan, belum membiasakan diri memilah sampah, serta kurangnya keterlibatan mereka dalam kegiatan peduli lingkungan.
Selain itu, kampanye lingkungan yang dilakukan di sekolah masih bersifat konvensional, seperti penyampaian lisan saat upacara atau pemasangan poster manual, sehingga kurang menarik perhatian siswa. Di sisi lain, perkembangan teknologi yang pesat, khususnya kecerdasan artifisial (AI), belum banyak dimanfaatkan dalam pembelajaran maupun kampanye lingkungan hidup.

Praktik baik ini penting dilakukan untuk:
  • Meningkatkan kesadaran dan kepedulian siswa terhadap lingkungan hidup.
  • Memberikan pengalaman belajar berbasis teknologi dan proyek nyata.
  • Mengintegrasikan nilai Adiwiyata dengan keterampilan digital abad 21.
  • Menumbuhkan kreativitas siswa melalui pemanfaatan media digital interaktif berbasis AI.
Dengan demikian, masalah rendahnya kepedulian lingkungan di sekolah sekaligus kurangnya penerapan teknologi dalam pembelajaran dapat diatasi secara bersamaan melalui praktik baik ini.

2. Tantangan yang Dihadapi
Dalam pelaksanaan praktik baik ini, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi, baik dari sisi sekolah, guru, maupun murid:

a. Tantangan dari Sekolah
  • Fasilitas digital yang masih terbatas, seperti jumlah perangkat komputer/chromebook yang belum mencukupi.
  • Akses internet di sekolah yang kadang tidak stabil sehingga menghambat penggunaan aplikasi berbasis AI.
  • Belum adanya program rutin yang mengintegrasikan teknologi digital dengan kampanye lingkungan.
b. Tantangan dari Guru
  • Guru perlu beradaptasi dengan perkembangan teknologi baru, khususnya penggunaan aplikasi AI untuk desain poster atau pembuatan video.
  • Waktu pembelajaran yang terbatas membuat guru harus pintar mengatur agar target pembelajaran dan proyek kampanye dapat tercapai.
  • Membutuhkan kreativitas dalam menghubungkan materi pembelajaran dengan isu lingkungan hidup agar tetap kontekstual.
c. Tantangan dari Murid
  • Sebagian siswa masih pasif dalam mengikuti kegiatan, cenderung hanya bergantung pada teman yang lebih aktif.
  • Keterampilan digital siswa tidak merata; ada yang sudah terbiasa menggunakan aplikasi desain, tetapi ada juga yang masih pemula.
  • Motivasi siswa untuk peduli lingkungan masih rendah, sehingga perlu strategi khusus agar mereka lebih terlibat dan merasa memiliki program ini.
3. Solusi yang Diterapkan
Untuk mengatasi tantangan yang ada, diterapkan sebuah praktik baik dengan nama:

“Kampanye Ramah Lingkungan dengan Digital AI”

Solusi yang dijalankan meliputi:
1. Pemanfaatan Media Digital Berbasis AI
  • Siswa membuat poster kampanye lingkungan dengan aplikasi desain Canva Edu berbasis AI.
  • Siswa memproduksi video pendek menggunakan tools AI sederhana (misalnya text-to-video atau AI video editor).
2. Pendekatan Kolaboratif
  • Guru membentuk kelompok heterogen agar siswa dengan kemampuan digital berbeda dapat saling membantu.
  • Melibatkan siswa aktif sebagai tutor sebaya bagi teman yang masih kesulitan menggunakan aplikasi.
3. Strategi Pembelajaran Inovatif
  • Menggunakan pendekatan Project Based Learning (PjBL), di mana siswa bekerja dalam proyek nyata kampanye lingkungan.
  • Mengintegrasikan refleksi kelas dan umpan balik sejawat agar hasil karya lebih baik.
4. Optimalisasi Sumber Daya yang Ada
  • Memanfaatkan laptop dan ponsel pintar siswa yang tersedia.
  • Menggunakan aplikasi AI gratis/versi trial untuk efisiensi.
5. Penguatan Nilai Peduli Lingkungan
  • Karya kampanye siswa dipresentasikan di kelas dan dipublikasikan di media sosial sekolah.
  • Memberikan penghargaan simbolis kepada kelompok dengan karya paling inspiratif untuk meningkatkan motivasi.
Dengan solusi ini, siswa tidak hanya belajar tentang pentingnya menjaga lingkungan, tetapi juga mengasah kreativitas, keterampilan digital, dan kolaborasi.

4. Capaian-capaian yang Berhasil Diraih
Pelaksanaan praktik baik “Kampanye Ramah Lingkungan dengan Digital AI” menghasilkan beberapa capaian penting, baik dari sisi proses maupun hasil, yaitu:

a. Persiapan
  • Menyusun modul ajar berbasis proyek (PjBL) yang mengintegrasikan teknologi AI dan tema lingkungan.
  • Menyiapkan perangkat digital (laptop, ponsel pintar) serta aplikasi AI gratis untuk desain poster dan editing video.
  • Membentuk kelompok belajar heterogen agar keterampilan siswa bisa saling melengkapi.
b. Pelaksanaan
  • Siswa aktif merancang poster digital dan video kampanye dengan tema peduli lingkungan.
  • Guru membimbing kelompok secara bergiliran, memberikan pertanyaan pemantik, dan memfasilitasi diskusi.
  • Hasil karya siswa dipresentasikan di kelas, didiskusikan bersama, lalu dipublikasikan di media sosial sekolah.
c. Strategi Pembelajaran Inovatif
  • Penerapan Project Based Learning (PjBL) membuat siswa belajar melalui pengalaman nyata.
  • Pemanfaatan AI dalam pembuatan media kampanye meningkatkan kreativitas siswa.
  • Refleksi bersama setelah presentasi memperkuat kemampuan berpikir kritis dan komunikasi.
d. Pemanfaatan Sumber Daya Secara Efektif
  • Optimalisasi penggunaan perangkat siswa (HP/laptop) dan jaringan internet sekolah.
  • Pemanfaatan aplikasi AI gratis/trial untuk efisiensi.
  • Dukungan dari guru lain dalam memberikan masukan terhadap karya siswa.
e. Dampak Positif terhadap Pembelajaran
  • Siswa lebih kreatif, inovatif, dan percaya diri dalam menyampaikan ide.
  • Kesadaran siswa terhadap pentingnya menjaga lingkungan meningkat.
  • Guru mendapatkan pengalaman baru dalam memadukan teknologi AI dengan pendidikan lingkungan.
Sekolah mendapatkan karya kampanye lingkungan yang menarik dan bisa menjadi media edukasi bagi warga sekolah.

5. Hasil dan Dampak
Pelaksanaan praktik baik “Eco-Campaign Digital dengan AI” memberikan hasil nyata serta dampak positif bagi siswa, guru, maupun sekolah, di antaranya:

a. Hasil
  • Tercipta berbagai karya kreatif berupa poster digital dan video kampanye lingkungan yang menarik, edukatif, dan sesuai konteks sekolah.
  • Siswa mampu menggunakan aplikasi berbasis AI untuk mendukung pembelajaran, khususnya dalam kampanye lingkungan.
  • Tumbuhnya budaya kolaborasi antara siswa dalam kelompok, serta antara guru dengan siswa dalam mengembangkan ide kampanye.
b. Dampak terhadap Siswa
  • Kesadaran lingkungan meningkat: siswa mulai lebih disiplin dalam memilah sampah dan menjaga kebersihan lingkungan sekolah.
  • Keterampilan digital berkembang: siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik langsung menggunakan teknologi AI.
  • Motivasi belajar bertambah: siswa lebih antusias karena pembelajaran bersifat aplikatif, kreatif, dan sesuai dengan dunia mereka.
c. Dampak terhadap Guru
  • Guru semakin terbiasa menggunakan teknologi AI sebagai bagian dari strategi pembelajaran.
  • Guru mendapatkan pengalaman dalam menerapkan model Project Based Learning (PjBL) berbasis teknologi.
  • Adanya refleksi bersama menjadikan guru lebih terbuka terhadap umpan balik untuk perbaikan pembelajaran.
d. Dampak terhadap Sekolah
  • Sekolah memperoleh media kampanye lingkungan yang dapat dipajang di ruang publik dan media sosial sekolah.
  • Citra sekolah sebagai sekolah peduli lingkungan sekaligus melek teknologi semakin kuat.
  • Meningkatnya dukungan dan partisipasi warga sekolah dalam mendukung program Adiwiyata.
6. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan:
Praktik baik “Kampanye Ramah Lingkungan dengan Digital AI” berhasil menjawab tantangan rendahnya kepedulian siswa terhadap lingkungan sekaligus keterampilan mereka dalam memanfaatkan teknologi digital. Melalui penerapan pembelajaran berbasis proyek dengan dukungan aplikasi AI, siswa mampu menghasilkan karya kreatif berupa poster dan video kampanye lingkungan yang berdampak positif bagi sekolah.

Keberhasilan utama praktik baik ini adalah:
  • Meningkatkan kesadaran siswa dalam menjaga lingkungan.
  • Mengembangkan keterampilan digital abad 21 melalui pemanfaatan AI.
  • Mendorong kolaborasi aktif antara siswa dan guru.
  • Menguatkan citra sekolah sebagai sekolah peduli lingkungan dan adaptif terhadap teknologi.
Saran
  • Untuk Guru: Perlu terus mengasah keterampilan digital dan kreativitas dalam mengintegrasikan teknologi dengan pembelajaran kontekstual.
  • Untuk Siswa: Diharapkan terus menjaga kepedulian terhadap lingkungan dan memanfaatkan teknologi secara positif.
  • Untuk Sekolah: Perlu menyediakan sarana pendukung yang lebih memadai, terutama perangkat digital dan akses internet stabil.
  • Untuk Sekolah Lain: Praktik baik ini dapat direplikasi dengan menyesuaikan kondisi sekolah masing-masing, terutama dalam penggunaan AI untuk kampanye lingkungan.
Dengan demikian, praktik baik ini dapat menjadi inspirasi dalam mengintegrasikan pendidikan lingkungan dengan teknologi digital, sehingga pembelajaran lebih bermakna, inovatif, dan berdampak nyata. Semua ini hasil tindak lanjut OJT 1 - 3 Pelatihan KKA yang di implementasikan di satuan pendidikan SMP Negeri 3 Songgon Satu Atap.


LAMPIRAN



***

Jumat, 12 September 2025

Presentasi Praktik Baik On the Job Training (OJT)

Presentasi Praktik Baik  
On the Job Training (OJT)


1. Latar Belakang

On the Job Training (OJT) merupakan bagian penting dari program pengembangan kompetensi guru yang berfokus pada praktik nyata di lapangan. Melalui kegiatan ini, guru diberikan kesempatan untuk:
  • Mengimplementasikan strategi pembelajaran yang telah dipelajari pada tahap In Service Training 1.
  • Melakukan refleksi pembelajaran melalui tiga sesi kegiatan, yaitu:
  1. Video Pembelajaran
  2. Open Class
  3. Peer Teaching
  • Mengidentifikasi tantangan yang muncul dalam proses pembelajaran serta menemukan solusi inovatif.
  • Mendokumentasikan praktik baik (best practices) yang bermanfaat bagi peningkatan kualitas pembelajaran.

2. Sesi 1: Video Pembelajaran

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan guru mampu mengembangkan kompetensi pedagogik, memanfaatkan teknologi, serta menerapkan pembelajaran yang lebih aktif, kreatif, dan berpusat pada peserta didik.

Pada sesi pertama, yaitu Video Pembelajaran, saya melaksanakan pembuatan media ajar berbentuk video yang disesuaikan dengan materi pembelajaran. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah menghadirkan pembelajaran yang lebih menarik, interaktif, dan dapat diakses kembali oleh siswa kapan saja.

Dalam pelaksanaannya, saya menghadapi beberapa tantangan, antara lain keterbatasan waktu produksi dan keterampilan dalam melakukan editing video. Namun, hal tersebut dapat diatasi dengan menggunakan aplikasi editing sederhana serta melakukan kolaborasi dengan rekan sejawat untuk saling membantu.

Hasil yang diperoleh dari kegiatan ini cukup signifikan. Video pembelajaran mampu meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam mengikuti materi, serta dapat dijadikan arsip digital yang bermanfaat untuk pembelajaran berkelanjutan. Dengan demikian, sesi ini memberikan pengalaman berharga dalam pemanfaatan teknologi sebagai media pembelajaran.

3. Sesi 2: Open Class

Pada sesi kedua, yaitu Open Class, saya melaksanakan pembelajaran terbuka yang melibatkan observer dari rekan sejawat. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah memberikan ruang transparansi, kolaborasi, serta memperoleh masukan langsung mengenai strategi pembelajaran yang diterapkan di kelas.

Dalam pelaksanaannya, saya menghadapi tantangan berupa keterbatasan waktu pembelajaran dan sikap sebagian siswa yang masih pasif dalam berdiskusi maupun bertanya. Untuk mengatasi hal ini, saya menerapkan solusi berupa penggunaan pertanyaan pemantik di awal kegiatan, pembentukan kelompok belajar yang heterogen, serta pemilihan fokus materi inti agar tetap sesuai dengan alokasi waktu.

Hasil dari pelaksanaan sesi ini menunjukkan capaian yang cukup baik. Siswa menjadi lebih aktif dalam proses pembelajaran, baik dalam bertanya maupun berpendapat, sementara guru memperoleh masukan berharga dari observer untuk pengembangan metode pembelajaran ke depannya.

4. Sesi 3: Peer Teaching

Pada sesi ketiga, yaitu Peer Teaching, saya melaksanakan praktik mengajar di hadapan rekan sejawat. Kegiatan ini bertujuan memberikan kesempatan untuk melatih keterampilan mengajar, memperoleh umpan balik langsung, serta menguji efektivitas rencana pembelajaran yang telah disusun.

Dalam pelaksanaannya, saya menghadapi tantangan berupa rasa gugup ketika mengajar di depan sejawat dan keterbatasan variasi metode yang digunakan. Untuk mengatasi hal ini, saya melakukan solusi berupa latihan mengajar sebelumnya, menyiapkan media interaktif yang mendukung pemahaman siswa, serta menyusun skenario pembelajaran yang lebih detail.

Dari kegiatan ini, saya memperoleh capaian berupa peningkatan kepercayaan diri dalam mengajar, serta masukan konstruktif dari rekan sejawat yang sangat bermanfaat untuk pengembangan pembelajaran ke depan. Dengan demikian, sesi peer teaching menjadi sarana refleksi sekaligus perbaikan strategi mengajar.

5. Praktik Baik (Best Practices)

Selama pelaksanaan On the Job Training (OJT), terdapat beberapa praktik baik yang berhasil diterapkan dan memberikan dampak positif terhadap proses pembelajaran.

Pertama, pemanfaatan media digital interaktif mampu meningkatkan minat dan keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar, serta membuat pembelajaran lebih variatif. Kedua, kolaborasi guru-siswa berjalan lebih optimal melalui diskusi kelompok dan pembelajaran berbasis proyek. Ketiga, refleksi bersama sejawat menjadi sarana untuk mengevaluasi kelebihan dan kekurangan pembelajaran secara objektif, sehingga guru mendapatkan masukan berharga.

Selain itu, pendekatan diferensiasi sesuai kebutuhan siswa berhasil membantu menyesuaikan materi dengan tingkat kemampuan dan gaya belajar yang berbeda. Terakhir, pengelolaan waktu lebih efektif mendukung ketercapaian tujuan pembelajaran sesuai dengan alokasi yang tersedia.

Dengan adanya praktik baik ini, proses pembelajaran menjadi lebih bermakna, relevan, dan berpusat pada peserta didik.

6. Revisi Rencana Pembelajaran

Berdasarkan hasil refleksi dari tiga sesi OJT, saya melakukan revisi rencana pembelajaran agar lebih efektif, relevan, dan sesuai kebutuhan siswa.

Pertama, tujuan pembelajaran diperjelas agar lebih spesifik, terukur, dan mudah dievaluasi. Kedua, kegiatan pembelajaran dirancang lebih variatif serta berpusat pada siswa, dengan menekankan aktivitas kolaboratif dan partisipatif. Ketiga, pemanfaatan media digital dioptimalkan, baik untuk presentasi, video pembelajaran, maupun latihan interaktif.

Selain itu, saya menambahkan ice breaking dan strategi motivasi di awal pembelajaran untuk membangun suasana kelas yang lebih kondusif. Terakhir, evaluasi formatif dan refleksi siswa ditempatkan di setiap akhir pembelajaran agar guru memperoleh umpan balik langsung terkait pemahaman dan pengalaman belajar siswa.

Dengan revisi ini, rencana pembelajaran diharapkan dapat lebih mendukung ketercapaian kompetensi sekaligus meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar.

7. Kesimpulan

Pelaksanaan On the Job Training (OJT) telah memberikan pengalaman yang berharga dalam meningkatkan kompetensi pedagogik dan profesionalisme guru. Melalui tiga sesi utama-Video Pembelajaran, Open Class, dan Peer Teaching-saya memperoleh kesempatan untuk mencoba strategi pembelajaran inovatif, menghadapi tantangan nyata, serta menemukan solusi yang relevan dengan konteks kelas.

Selain itu, praktik baik yang berhasil diterapkan, seperti pemanfaatan media digital interaktif, kolaborasi guru-siswa, refleksi bersama sejawat, dan pengelolaan waktu yang lebih efektif, menjadi bekal penting dalam pengembangan pembelajaran ke depan. Revisi rencana pembelajaran juga menjadi langkah konkret untuk memperbaiki kualitas proses belajar agar lebih terukur, relevan, dan berpusat pada peserta didik.

Dengan demikian, OJT bukan hanya sekadar kegiatan pelatihan, tetapi juga sarana refleksi, kolaborasi, dan inovasi. Harapannya, seluruh pengalaman dan praktik baik ini dapat memberikan dampak positif bagi siswa, sekolah, serta komunitas pendidikan yang lebih luas.


  ***

Kamis, 11 September 2025

Berbagi Praktik Baik & Revisi Rencana Pembelajaran

LAPORAN
On the Job Training
Berbagi Praktik Baik & Revisi Rencana Pembelajaran


A. Pendahuluan
Kegiatan On the Job Training (OJT) merupakan bagian penting dalam pengembangan profesionalisme guru. Program ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang nyata melalui praktik langsung di kelas, sehingga guru dapat meningkatkan keterampilan pedagogik, inovasi pembelajaran, serta kemampuan refleksi diri.

Dalam pelaksanaannya, OJT terdiri atas tiga sesi utama, yaitu Video Pembelajaran, Open Class, dan Peer Teaching. Setiap sesi memberikan kesempatan bagi guru untuk:
  • Merancang dan memanfaatkan media pembelajaran digital.
  • Melaksanakan pembelajaran kolaboratif yang diamati serta dievaluasi.
  • Melatih keterampilan mengajar secara lebih percaya diri di hadapan rekan sejawat.
Melalui kegiatan ini, guru tidak hanya berlatih mengimplementasikan rencana pembelajaran, tetapi juga belajar mengatasi berbagai tantangan, menemukan solusi inovatif, serta memperbaiki strategi agar lebih sesuai dengan kebutuhan siswa. Hasil dari proses ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus memberi kontribusi positif bagi pengembangan sekolah sebagai komunitas belajar.


B. Laporan Pelaksanaan 3 Sesi Pembelajaran
1. Sesi 1: Video Pembelajaran
Pelaksanaan
Guru menyusun dan membuat video pembelajaran sesuai dengan materi ajar yang telah direncanakan. Video ini kemudian digunakan sebagai bahan ajar tambahan yang dapat diakses siswa secara fleksibel, baik di dalam maupun di luar kelas.

Tantangan
  • Keterbatasan keterampilan teknis dalam proses editing video.
  • Keterbatasan perangkat dan waktu dalam pembuatan konten yang sesuai standar.
Solusi
  • Menggunakan aplikasi editing sederhana yang mudah dipelajari.
  • Membagi peran dengan rekan sejawat, misalnya ada yang fokus pada pembuatan materi, ada yang menangani teknis.
  • Menyusun storyboard sederhana agar proses pembuatan lebih terarah.
Capaian
  • Video pembelajaran berhasil menarik perhatian siswa dan memudahkan mereka memahami materi.
  • Materi dalam bentuk video dapat digunakan kembali sebagai arsip digital serta sumber belajar mandiri.
  • Meningkatkan motivasi belajar siswa karena media pembelajaran lebih variatif.
Dokumentasi Kegiatan Video Pembelajaran 

On The Job Training 1 
"Implementasi Real Teaching di Kelas"

2. Sesi 2: Open Class
Pelaksanaan
Guru melaksanakan pembelajaran terbuka yang dihadiri oleh rekan sejawat sebagai observer. Pada sesi ini, metode pembelajaran kolaboratif diterapkan dengan mengajak siswa bekerja dalam kelompok, berdiskusi, serta mempresentasikan hasil kerja mereka.

Tantangan
  • Keterbatasan waktu untuk menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran.
  • Beberapa siswa masih pasif dan kurang percaya diri dalam mengemukakan pendapat.
  • Perlu pengaturan kelas yang lebih baik agar diskusi berjalan efektif.
Solusi
  • Menentukan prioritas materi inti yang wajib disampaikan.
  • Memberikan stimulus berupa pertanyaan pemantik untuk mendorong siswa aktif.
  • Membagi kelompok dengan komposisi heterogen agar siswa saling membantu.
  • Mengatur alokasi waktu dengan lebih disiplin sesuai skenario pembelajaran.
Capaian
  • Siswa terlihat lebih aktif bertanya, berdiskusi, dan berani menyampaikan pendapat di depan kelas.
  • Guru mendapatkan masukan konstruktif dari observer terkait strategi pembelajaran dan pengelolaan kelas.
  • Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif dan menumbuhkan suasana belajar yang menyenangkan.
Dokumentasi Kegiatan Open Class

On The Job Training 2 
"Implementasi Real Teaching di Kelas"


3. Sesi 3: Peer Teaching
Guru melaksanakan praktik mengajar di hadapan rekan sejawat (peer teaching) dengan skenario pembelajaran yang telah dipersiapkan. Pada sesi ini, guru berlatih menerapkan metode pembelajaran inovatif, memanfaatkan media digital, serta mengelola kelas secara efektif.

Tantangan
  • Perasaan gugup dan kurang percaya diri saat mengajar di hadapan sesama guru.
  • Keterbatasan variasi metode sehingga ada risiko pembelajaran berjalan monoton.
  • Kesulitan dalam menjaga keseimbangan antara penjelasan guru dan aktivitas siswa.
Solusi
  • Melakukan latihan terlebih dahulu sebelum pelaksanaan peer teaching.
  • Menyiapkan media pembelajaran interaktif (slide, video, atau aplikasi edukatif).
  • Menyusun skenario pembelajaran dengan detail agar alur kegiatan lebih terarah.
  • Mengatur strategi komunikasi agar lebih percaya diri dan fokus pada tujuan pembelajaran.
Capaian
  • Guru mampu melaksanakan pembelajaran dengan lebih percaya diri dan tenang.
  • Interaksi antara guru dan “siswa” (rekan sejawat) terjalin baik, menunjukkan simulasi pembelajaran yang hidup.
  • Mendapatkan masukan yang konstruktif dari rekan sejawat untuk perbaikan lebih lanjut.
  • Meningkatkan keterampilan guru dalam mengelola kelas dan memanfaatkan media pembelajaran.
Dokumentasi Kegiatan Peer Teaching


On The Job Training 3
Melaksanakan praktik mengajar di hadapan rekan sejawat dan fasilitator
(Kelompok 3_Batch 2 Banyuwangi_3)


C. Berbagi Praktik Baik (Best Practices)
Selama pelaksanaan On the Job Training (OJT), terdapat beberapa praktik baik yang berhasil diterapkan dan terbukti memberikan dampak positif terhadap proses pembelajaran, antara lain:

1. Pemanfaatan Media Digital
Menggunakan video pembelajaran, slide interaktif, dan aplikasi pendukung untuk menarik perhatian siswa serta memperkaya sumber belajar.

2. Kolaborasi Guru dan Siswa
Menerapkan diskusi kelompok kecil dan presentasi hasil kerja yang membuat siswa lebih aktif dan saling mendukung.

3. Refleksi Bersama
Melibatkan rekan sejawat dalam memberikan masukan konstruktif melalui sesi open class dan peer teaching sehingga guru lebih mudah memperbaiki strategi.

4. Pendekatan Diferensiasi
Menyesuaikan metode pembelajaran dengan kemampuan dan kebutuhan siswa yang beragam, sehingga semua siswa bisa terlibat aktif sesuai potensinya.

5. Pengelolaan Waktu yang Lebih Efektif
Menetapkan prioritas materi inti dan mengatur alokasi waktu antara penjelasan guru serta aktivitas siswa agar pembelajaran berjalan seimbang.

6. Peningkatan Kepercayaan Diri Guru
Melalui peer teaching, guru semakin terlatih untuk tampil percaya diri, kreatif, dan komunikatif dalam mengelola kelas.


D. Revisi Rencana Pembelajaran
Berdasarkan hasil refleksi dan masukan dari pelaksanaan tiga sesi On the Job Training (OJT), terdapat beberapa perbaikan dalam rencana pembelajaran agar lebih efektif, kontekstual, dan relevan dengan kebutuhan siswa, yaitu sebagai berikut:

1. Perumusan Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran ditulis lebih spesifik, terukur, dan sesuai dengan capaian pembelajaran.

2. Kegiatan Pembelajaran yang Lebih Variatif
Menambahkan aktivitas yang berpusat pada siswa (student-centered learning) seperti diskusi kelompok, role play, dan project sederhana.

3. Penggunaan Media Pembelajaran
Mengoptimalkan media digital interaktif (video, presentasi, aplikasi edukasi) agar siswa lebih terlibat aktif.

4. Penyisipan Ice Breaking dan Motivasi
Memberikan aktivitas singkat di awal pembelajaran untuk membangun semangat dan fokus siswa.

5. Pengelolaan Waktu
Mengatur alokasi waktu yang seimbang antara penjelasan guru, diskusi, latihan, dan refleksi siswa.

6. Evaluasi dan Refleksi Siswa
Menambahkan kegiatan refleksi di akhir pembelajaran agar siswa dapat menilai pemahamannya sendiri serta memberikan umpan balik untuk guru.

7. Kontekstualisasi Materi
Mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari siswa agar lebih bermakna dan mudah dipahami.


E. Penutup
Kegiatan On the Job Training ini memberikan kesempatan yang sangat berharga untuk mengasah kompetensi guru dalam merancang, melaksanakan, dan merefleksikan proses pembelajaran. Melalui tiga sesi utama-Video Pembelajaran, Open Class, dan Peer Teaching-guru tidak hanya berlatih mengajar, tetapi juga belajar berkolaborasi, beradaptasi, dan berinovasi sesuai kebutuhan kelas.

Tantangan yang dihadapi selama proses ini menjadi pengalaman berharga untuk terus memperbaiki strategi pembelajaran, sementara praktik baik yang diperoleh diharapkan dapat menginspirasi rekan sejawat dalam menciptakan pembelajaran yang lebih kreatif, efektif, dan bermakna.

Akhirnya, semoga laporan, praktik baik, dan revisi rencana pembelajaran ini dapat menjadi bukti nyata perkembangan profesionalisme guru serta kontribusi positif bagi peningkatan mutu pendidikan di sekolah.

***

Kegiatan On the Job Training (OJT) 3

Kegiatan On the Job Training (OJT) 3 dalam rangkaian Pelatihan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) Kabupaten Banyuwangi dilaksanakan pada Rabu-Kamis, 10-11 September 2025 bertempat di SMP Negeri 3 Rojogampi. Acara dimulai tepat pukul 08.00 WIB dan berlangsung hingga 16.00 WIB setiap harinya. Agenda ini merupakan tahapan lanjutan dari pelatihan In1, dengan fokus pada praktik implementasi, peer teaching, serta penyusunan rencana tindak lanjut.

Hari pertama (Rabu, 10 September 2025) diikuti oleh peserta dari SMP Kabupaten Banyuwangi 1, sedangkan hari kedua (Kamis, 11 September 2025) diikuti oleh peserta dari SMP Kabupaten Banyuwangi 2 dan 3.

Sesi Observasi dan Presentasi. Salah satu momen penting dalam OJT 3 adalah sesi observasi. Peserta dibagi menjadi 6 kelompok, masing-masing kelompok mempresentasikan hasil proyek atau rancangan pembelajaran mereka secara bergiliran. Presentasi ini sekaligus menjadi ajang observasi silang dari kelompok lain, di mana setiap kelompok diminta memberikan tanggapan, masukan, maupun refleksi terhadap presentasi rekan mereka.

Suasana presentasi berlangsung cair, interaktif, dan saling melengkapi. Guru-guru tampak terbuka menerima umpan balik, bahkan saling berbagi pengalaman praktis dari kelas masing-masing. Diskusi tidak hanya memperkaya isi proyek yang dipresentasikan, tetapi juga memperluas wawasan semua peserta tentang berbagai kemungkinan penerapan koding dan kecerdasan artifisial dalam pembelajaran.

Refleksi dan Rencana Tindak Lanjut
Selain observasi, fasilitator juga mengarahkan peserta untuk melakukan refleksi mendalam terhadap hasil kerja kelompok. Dari proses ini, peserta kemudian menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang akan diimplementasikan di sekolah masing-masing. Refleksi bersama menegaskan pentingnya kolaborasi, kreativitas, dan keberanian mencoba hal baru di kelas.

Penutup
Secara keseluruhan, OJT 3 Pelatihan KKA Kabupaten Banyuwangi berlangsung dengan sukses. Melalui sesi observasi, peer teaching, dan refleksi bersama, para guru tidak hanya mendapat pengalaman praktik, tetapi juga belajar saling memberi masukan dengan semangat kolektif. 
Kegiatan ini semakin menguatkan komitmen para peserta untuk menjadi agen transformasi digital di sekolah, sekaligus menjawab tantangan pembelajaran abad 21.


***

Selasa, 02 September 2025

Berbagi Praktik pada Momen IHT Diseminasi Pembelajaran Mendalam

 
Dalam rangka peningkatan mutu pembelajaran dan penguatan kompetensi guru, SMP Negeri 3 Songgon menyelenggarakan kegiatan In House Training (IHT) Diseminasi Pembelajaran Mendalam pada hari Selasa, 2 September 2025, bertempat di Laboratorium Komputer SMP Negeri 3 Songgon. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh dewan guruKepala Sekolah, serta turut dihadiri oleh Pengawas SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi.


Latar Belakang Kegiatan

Kegiatan ini digelar sebagai tindak lanjut atas partisipasi guru-guru SMP Negeri 3 Songgon dalam beberapa pelatihan resmi yang dibiayai melalui Dana BOS Kinerja. Sekolah ini berhasil mencatatkan diri sebagai salah satu sekolah dengan Rapor Pendidikan terbaik tahun 2025, sehingga mendapatkan kepercayaan untuk memperkuat kapasitas guru melalui pelatihan lanjutan dan diseminasi praktik pembelajaran.

Pelaksana dan Narasumber Diseminasi

Dalam forum IHT ini, praktik pembelajaran dibagikan oleh:

  1. Tiga guru dan Kepala Sekolah peserta Pelatihan Pembelajaran Mendalam (PM)
  2. Satu guru peserta Pelatihan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA)

Setiap narasumber menyampaikan materi berupa:

  • Hasil pelatihan yang diikuti
  • Model dan strategi pembelajaran inovatif
  • Contoh implementasi nyata di kelas
  • Rencana pengembangan penerapan di seluruh mata pelajaran

Rangkaian Acara

Acara dibuka oleh Kepala SMP Negeri 3 Songgon, yang menegaskan pentingnya transformasi pembelajaran untuk mendorong perubahan nyata pada siswa. Beliau mengapresiasi kerja keras guru yang telah mengikuti pelatihan dan mengharapkan penyebarluasan praktik baik untuk seluruh guru di sekolah.

Selanjutnya, sesi berbagi praktik dilaksanakan secara bergiliran, di antaranya:

  • Pemaparan konsep dan langkah implementasi Pembelajaran Mendalam, terutama strategi yang menempatkan siswa sebagai pusat aktivitas belajar dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, serta kreatif.
  • Pembahasan prinsip Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) sebagai kompetensi baru yang perlu dikenalkan sejak dini untuk mempersiapkan siswa menghadapi era digital dan teknologi masa depan.
  • Contoh perangkat ajar, asesmen formatif, serta refleksi pelaksanaan pembelajaran di kelas.
  • Diskusi dan tanya jawab antar peserta untuk memperkaya praktik pembelajaran yang akan diterapkan.

Peran Pengawas Sekolah

Pengawas SMP dari Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi memberikan penguatan, arahan, serta apresiasi terhadap upaya SMP Negeri 3 Songgon dalam konsisten meningkatkan kualitas sekolah melalui pengembangan profesional guru. Pengawas juga memberikan masukan agar hasil diseminasi dapat diimplementasikan secara menyeluruh dan berkelanjutan di ruang kelas.

Hasil dan Output Kegiatan

Melalui kegiatan IHT ini, diperoleh beberapa capaian nyata:

  • Guru memperoleh pemahaman lebih mendalam tentang konsep Pembelajaran Mendalam dan penerapannya.
  • Muncul rencana kolaboratif antar guru untuk menerapkan strategi baru pada pembelajaran di semester berjalan.
  • Sekolah memperkuat komitmen untuk menerapkan budaya berbagi praktik baik antar pendidik.
  • Terbentuk kesepakatan bahwa kegiatan diseminasi akan dilakukan secara berkala untuk menjaga kesinambungan pengembangan mutu.

Penutup

Kegiatan IHT Diseminasi Pembelajaran Mendalam di SMP Negeri 3 Songgon berjalan lancar, partisipatif, dan penuh antusiasme. Semangat guru dalam belajar dan meningkatkan kompetensi menjadi modal penting bagi sekolah untuk terus mempertahankan dan meningkatkan prestasi, selaras dengan visi sekolah sebagai satuan pendidikan yang unggul, adaptif, dan berorientasi pada kemajuan.

Sesi Foto Bersama Pengawas Pasca kegiatan


Sabtu, 30 Agustus 2025

Kegiatan On the Job Training (OJT) 2

Pelaksanaan On the Job Training (OJT) 2 dalam rangkaian Pelatihan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) Kabupaten Banyuwangi berlangsung pada Jum’at-Sabtu, 29-30 Agustus 2025 di SMP Negeri 3 Rojogampi. Kegiatan ini dimulai pukul 08.00 WIB dan berakhir pukul 16.00 WIB, dengan peserta dari SMP Kabupaten Banyuwangi 1, 2, dan 3.

Implementasi di Satuan Pendidikan
Pada tahap ini, peserta guru melakukan Real Teaching di kelas masing-masing dengan fokus pada Konsep Dasar Kecerdasan Artifisial. Proses ini diawali dengan penerapan hasil refleksi dari video pembelajaran pada sesi sebelumnya, lalu dikembangkan menjadi praktik nyata di kelas.

Setiap guru berkesempatan melaksanakan Open Class secara bergantian bersama rekan pelatihan. Rekan guru yang bertugas sebagai observer menggunakan Format Observasi Pembelajaran/Real Teaching untuk mencatat jalannya pembelajaran secara utuh. Setelah itu, dilaksanakan diskusi singkat antara pengajar dan observer guna mengkaji efektivitas pembelajaran serta memberikan umpan balik yang konstruktif. Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung kepada peserta untuk mengintegrasikan konsep KKA ke dalam proses belajar, sekaligus melatih keterampilan menerima masukan dari rekan sejawat.

Pertemuan Kelompok Belajar
Setelah rangkaian Real Teaching, peserta mengikuti Pertemuan Luring ke-2 bersama fasilitator di kelompok belajar. Agenda utama adalah:
  • Refleksi komprehensif terhadap hasil Open Class yang telah dilaksanakan,
  • Berbagi pengalaman, tantangan, dan keberhasilan selama implementasi,
  • Diskusi peer-to-peer untuk saling memberi masukan, serta penguatan konsep dan arahan lanjutan dari fasilitator terkait penerapan Kecerdasan Artifisial dalam pembelajaran.
Dalam suasana yang cair dan interaktif, para guru menunjukkan semangat kolaborasi. Sesi berbagi pengalaman memperlihatkan variasi strategi kreatif yang digunakan peserta, mulai dari penggunaan aplikasi berbasis AI sederhana, hingga ide integrasi kecerdasan buatan dalam tugas berbasis proyek.


Dokumentasi dan Refleksi
Sebagai bagian dari tugas, setiap peserta diwajibkan mengunggah dokumentasi (foto/video) kegiatan Real Teaching serta lembar observasi yang telah diisi. Dokumen ini menjadi bahan refleksi mendalam sekaligus dasar perencanaan pertemuan pembelajaran berikutnya di kelompok belajar.

Penutup
Secara keseluruhan, OJT 2 memberikan pengalaman yang lebih nyata kepada peserta untuk mengimplementasikan konsep KKA di kelas. Dengan kombinasi praktek langsung, observasi sejawat, dan refleksi kelompok, kegiatan ini berhasil memperkuat kompetensi guru Banyuwangi dalam menyiapkan pembelajaran abad 21 yang berbasis literasi teknologi dan kecerdasan artifisial.


***

Jumat, 29 Agustus 2025

Tugas KKA OJT 2


Berikut adalah Dokumentasi Tugas On The Job Training 2 "Implementasi Real Teaching di Kelas" pada Pelatihan KKA Pembelajaran dan Proyek Modul 3 dengan topik Konsep Dasar Kecerdasan Artifisial di Kelas sebagai Dasar Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial di Kelas.

Tahapan penting ini saya laksanakan di fase D kelas 7 di satuan pendidikan saya yaitu SMP Negeri 3 Songgon Kabupaten Banyuwangi.

Nb.
Untuk kegiatan Observasi dilaksanakan secara Luring dan silang dengan rekan guru dari Satuan Pendidikan terdekat namun masih se-Lokus.

Selasa, 05 Agustus 2025

Kegiatan On the Job Training (OJT) 1

Kegiatan On the Job Training (OJT) 1 dalam rangkaian Pelatihan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) Kabupaten Banyuwangi resmi dilaksanakan pada Senin-Selasa, 4-5 Agustus 2025 bertempat di SMP Negeri 3 Rojogampi. Kegiatan ini berlangsung dari pukul 08.00–16.00 WIB dan diikuti oleh guru-guru peserta dari SMP Kabupaten Banyuwangi 1, 2, dan 3.

Implementasi di Satuan Pendidikan
Tahap OJT 1 difokuskan pada Real Teaching di kelas dengan tema Berpikir Komputasional dan Literasi Digital. Peserta guru diminta mengimplementasikan pembelajaran secara nyata di kelas masing-masing, kemudian merekam proses pembelajaran sebagai dokumentasi.

Rekaman video tersebut tidak hanya berfungsi sebagai bukti pelaksanaan, tetapi juga sebagai bahan refleksi dan diskusi. Peserta diwajibkan mengunggah video ke YouTube, lalu menyematkan tautannya ke dalam Learning Management System (LMS) pada aktivitas Refleksi dan Tanggapan Sesi 1 Modul 2.
Langkah ini menjadi bagian penting untuk membangun kebiasaan reflektif, memungkinkan guru meninjau kembali praktik pembelajaran mereka sendiri, sekaligus membuka ruang untuk saling memberi masukan konstruktif antar sesama peserta.

Pertemuan Kelompok Belajar
Setelah implementasi di kelas, peserta mengikuti Pertemuan Luring ke-1 bersama fasilitator di kelompok belajar. Agenda utama pada sesi ini meliputi:
  • Refleksi mendalam terhadap hasil video pembelajaran yang diunggah,
  • Berbagi pengalaman, tantangan, dan strategi sukses di kelas,
  • Saling memberi masukan yang membangun antar guru, serta penguatan konsep dari fasilitator terkait Berpikir Komputasional sebagai dasar koding dan kecerdasan artifisial.
Diskusi kelompok berlangsung dalam suasana yang cair, terbuka, dan kolaboratif. Para guru tampak antusias berbagi praktik baik, sekaligus mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan.

Refleksi dan Tindak Lanjut
Sebagai tindak lanjut, peserta diminta menyusun bahan refleksi awal dari hasil analisis video pembelajaran dan masukan sejawat. Refleksi ini akan menjadi bekal penting dalam perencanaan pertemuan berikutnya di kelompok belajar, sekaligus memperkuat kompetensi peserta dalam mengintegrasikan berpikir komputasional ke dalam mata pelajaran mereka.

Penutup
Dengan terlaksananya OJT 1, guru-guru peserta pelatihan KKA Kabupaten Banyuwangi telah mengambil langkah awal yang nyata dalam menghadirkan literasi digital dan berpikir komputasional ke ruang kelas. Melalui kombinasi praktik, refleksi, dan diskusi sejawat, kegiatan ini menjadi pondasi penting sebelum memasuki tahap OJT selanjutnya yang berfokus pada implementasi kecerdasan artifisial dalam pembelajaran.


***